Stroke merupakan pembunuh nomor tiga setelah penyakit infeksi dan jantung koroner di Indonesia. Sekitar 28,5 persen penderita penyakit stroke di Indonesia meninggal dunia, sedangkan di Eropa, stroke merupakan penyakit berbahaya kedua setelah penyakit jantung koroner. Di Amerika Serikat setiap tahun ada sekitar 500.000 orang terkena stroke, dan 150.000 orang mati akibat stroke. Sebagian besar (85%) karena stroke iskemik dan sisanya karena stroke perdarahan. Lumbantobing (2002) berpendapat bahwa banyak masyarakat awam yang tidak menyadari bahwa stroke sangat berbahaya karena informasi ini sering tidak didapat oleh masyarakat kalangan menengah ke bawah. Stroke termasuk penyakit serebrovaskuler (pembuluh darah otak) yang ditandai dengan kematian jaringan otak (infark serebral) yang terjadi karena berkurangnya aliran darah dan oksigen ke otak. Stroke terdiri dari dua macam, yaitu stroke iskemik dan hemorragik. Salah satu penyebab stroke iskemik adalah aterosklerosis yang merupakan penyakit, ditandai dengan adanya penebalan dan hilangnya elastisitas arteri (Japardi, 2002:1; Junaidi, 2004; Joesoef, 2007:1).
Inflamasi sistemik berperan pada kejadian aterosklerosis. Inflamasi atau peradangan ini, pada kondisi normal sebenarnya proses pertahanan tubuh karena proses biokimia inflamasi ditujukan untuk melawan invasi bakteri dari luar, zat-zat yang negatif bagi sel-sel, jaringan sel, serta organ-organ, ataupun apabila terjadi luka. Dalam hubungan ini, jenis sel seperti leukosit dan neutrofil berperan memusnahkan invasor. Namun, dalam beberapa proses seperti pada kejadian aterosklerosis, inflamasi merupakan salah satu faktor penyebabnya. Inflamasi menyebabkan penimbunan lipid yang ditambah poliferasi sel, dapat menjadi sangat besar sehingga plak tampak menonjol di dalam lumen arteri. Oleh karena itu, diharapkan penekanan proses inflamasi, antilipid, dan antiproliferasi dapat dijadikan target pencegah terjadinya aterosklerosis yang potensi dapat menyebabkan stroke iskemik (Guyton dan Hall, 2007:891; Tan, 2008; Gaharu dan Prasadja, 2008).
Sementara itu, manggis (Garcinia mangostana L.) merupakan salah satu buah unggulan Indonesia yang memiliki peluang ekspor cukup menjanjikan. Dari tahun ke tahun permintaan manggis meningkat seiring dengan kebutuhan konsumen. Pada tahun 1999 volume ekspor 4.743.493 kg dengan nilai ekspor 3.887.816 US$ dan tahun 2000 volume ekspor mencapai 7.182.098 kg dengan nilai ekspor 5.885.038 US$. Buah manggis ini banyak tumbuh di Sumatera Barat. Dari hasil penelitian, buah asli Asia Tenggara ini dapat menghasilkan xanthone sebagai antiinflamasi, menurunkan kolesterol LDL dan antiproliferasi. Oleh karena itu, pemanfaatan kulit manggis yang mengandung xanthone dan derivatnya dapat memiliki peranan dalam proses aterosklerosis yang berpotensi menyebabkan stroke iskemik. (Tan, 2008; Hestianingsih, 2007; LP2M, 2004:1). (dalam tahap perbaikan)
Selasa, 25 November 2008
Pengaruh Xanthone pada Kulit Buah Manggis (Garcinia mangostana L.) dalam patofisiologi aterosklerosis dan Penurunan Tingkat Resiko Stroke Iskemik
Diposting oleh ima_sweety di 09.29
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar